♠️ Berita Tentang Penaklukan Jambi Oleh Sriwijaya Tertulis Dalam Prasasti
GentingKra (Melayu) oleh Sriwijaya. g) Prasasti Palas Pasemah (tidak berangka tahun) ditemukan di Lampung berisi penaklukan Sriwijaya terhadap Kerajaan Tulangbawang pada abad ke-7. Dari sumber-sumber sejarah tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, pendiri Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanegara yang
PrasastiKarang Berahi; Prasasti Talang Tuwi; Prasasti Kedukan Bukit; Kunci Jawabannya adalah: B. Prasasti Karang Berahi. Dilansir dari Ensiklopedia, Upaya penaklukan Jambi dan kerajaan di Jawa diketahui dariupaya penaklukan jambi dan kerajaan di jawa diketahui dari Prasasti Karang Berahi. Penjelasan. Kenapa jawabanya bukan A. Prasasti Muara Takus?
Prasastiini ditemukan pertama kali oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada 1904 di Desa Karang Berahi, Kabupaten Merangin, Jambi. Salah satu prasasti dari Kerajaan Sriwijaya ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno menggunakan huruf Pallawa. Isi dari prasasti Karang Berahi yaitu kutukan bagi orang-orang yang tidak taat pada raja Sriwijaya. 7. Prasasti
A METODOLOGI SEJARAH. Metodologi atau science of methods adalah ilmu yang membicarakan tentang cara. Dengan demikian metode sejarah adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang bahan, kritik, interpretasi dan penyajian sejarah. Dalam metodologi sejarah, disini diuraikan berbagai jenis penulisan sejarah, unit kajian, permasalahan
Namundemikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola. Kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun 1079, Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) raja dinasti Chola disebut juga sebagai raja San-fo-ts'i, yang kemudian mengirimkan utusan untuk membantu perbaikan candi dekat Kanton. Selanjutnya dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San
Dalamisi prasasti Sriwijaya pada abad ke-7 sampai abad Talang Tuwo tersebut selain menjelaskan ke-13 M. tentang pembangunan taman (Srikstra) maritim sebagai dan Budha sekaligus kebijakannya bagaimana dalam memimpin Penjelasan mengenai Sriwijaya tetapi ada indikasi sebuah pemaknaan yang bercorak Budha mungkin selama ini yang mengisyaratkan
A Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah Indonesia, tetapi dikenal di setiap bangsa atau negara yang berada jauh di luar Indo¬nesia. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan Selat Malaka. Telah kita ketahui, Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubung
Prasastiprasasti dalam aksara Jawa Kuno, bukan bahasa Arab, ditemukan pada banyak serangkaian batu nisan bertanggal sampai 1369 M di Jawa Timur, menunjukkan bahwa mereka hampir pasti adalah Jawa pribumi, bukan Muslim asing. Sebuah penaklukan oleh Muslim di daerah ini terjadi pada abad ke-16. Dalam studinya tentang Kesultanan Banten, Martin
Selainprasasti, sumber tertulis tentang Sriwijaja juga didapatkan dalam Prasasti Nalanda dan berita Tiongkok (Marwati & Nugroho, 1993 :75-76). Menurut Marwati & Nugroho (1993) , sampai abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya dikirimkan oleh Sriwijaya pada 1003 (Slamet, 1996 :271-272). Pada 1008 Raja Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yaitu Marawijaya
Halini juga diperkuat oleh 5 buah prasasti dari Kerajaan Sriwijaya yang kesemuanya ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti-prasasti tersebut adalah sebagai beikut : Berita-berita dalam negeri berasal dari prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti tersebut sebagian besar mengguna-kan
Nah demikianlah isi 9 prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya beserta gambarnya yang berhasil ditemukan hingga saat ini. Sebetulnya bukti sejarah keberadaan kerajaan Sriwijaya di masa lampau sangat terbatas. Bagi Anda yang mungkin kini tinggal di daerah kekuasaan kerajaan Sriwijaya di masa lalu, cobalah untuk lebih jeli lagi melihat batu-batu
SourceImage: Image. Feb 11, 2022 Info Zaman Jembatan Beton- PENGERTIAN JEMBATAN Jembatan ialah suatu struktur kontruksi yang memungkinkan route transfortasi melalui sungai, danau, kali, jalan raya, jalan kereta api dan lainlain.jembatan beton mulai terkenal sejak tahun, jembatan pada zaman purba menggunakan, jembatan cable stayed, pada masa romawi kuno
JQmOoa. Kerajaan Sriwijaya sempat menjadi salah satu yang terbesar di Nusantara. Tepatnya berdiri pada sekitar abad ke-7 Masehi di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Rachman Haryanto/detikcom Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang diterbitkan dalam bentuk buku pengayaan berjudul Rumah Peradaban Sriwijaya di Muarajambi Persinggahan Terakhir, Kerajaan Sriwijaya lahir pada abad ke-7 Masehi. Pendirinya disebut bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Gunawan Kartapranata/Wikipedia Keterangan ini tertulis pada salah satu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur, Mendo Barat, Bangka. Prasasti yang disebut Prasasti Kota Kapur ini menyatakan institusi kekuasaan tersebut bernama Kadatuan Sriwijaya. Darwance Law/d'Traveler Kadatuan Sriwijaya diduga kuat berpusat di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Alasannya, enam dari 12 prasastinya, bahkan yang tertua, ditemukan di daerah Palembang, yaitu Prasasti Kedukan Bukit 682 Masehi, Talang Tuo 684 Masehi, serta prasasti Telaga Batu, Boom Baru, Kambang Unglen 1, dan Kambang Unglen 2. Rachman Haryanto/detikcom Arkeolog Prancis George Coedes menyebut pada tahun 683-686 nama Sriwijaya muncul dalam tiga prasasti berbahasa Melayu Kuno. Prasasti Kedukan Bukit, Karang Brahi di daerah pedalaman Jambi, dan Kota Kapur. Rachman Haryanto/detikcom Kerajaan Sriwijaya menguasai maritim dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia Sholihat Irfan dalam bukunya Kerajaan Sriwijaya Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya menyebut sumber-sumber China mencatat kapal Sriwijaya memiliki panjang sampai 60 meter dan mampu memuat penumpang sampai 1000 orang. Wikipedia Commons/Michael J. Lowe Raja Balaputradewa dianggap sebagai raja yang membawa Sriwijaya ke puncak kegemilangannya pada abad ke-8 dan 9. Namun pada dasarnya, kerajaan ini mengalami masa kekuasaan yang gemilang sampai ke generasi Sri Marawijaya. Rachman Haryanto/detikcom Namun masa jaya Sriwijaya mulai meredup dimulai pada awal abad ke-11 Masehi. Penyebabnya karena adanya serangan dari Kerajaan Cola di India Selatan yang ingin mengambil alih kendali perdagangan di Selat Malaka. Ady Candra/d'Traveler Prasasti Rajaraja I yang memiliki tahun 1030/31 Masehi dari Tanjore menceritakan kisah tentang penaklukan Cola atas Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Selat Malaka. Saat itu pemimpin Sriwijaya Sangramawijayottungawarman ditawan. Nama Kerajaan Sriwijaya perlahan tak terdengar lagi. Grandyos Zafna/detikcom Sementara itu sejarah Indonesia mencatat salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Sriwijaya adalah berkurangnya kapal dagang yang singgah. Semakin sedikitnya kapal dagang yang singgah berakibat pada aktivitas jual-beli dan perdagangan samakin berkurang. Karenanya, pendapatan Kerajaan Sriwijaya dari pajak kapal juga makin menurun dan membuatnya bangkrut. Gusmun/detikcom Jejak Kerajaan Sriwijaya masih ada hingga kini. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terbaru ditemukan oleh nelayan Sungai Musi, Palembang, Sumatra. Dok. musinTreasure galery Temuan para nelayan ini luar biasa, karena berisi harta karun. Raja Adil Siregar/detikcom Selain itu ada juga patung Buddha abad ke-8 berukuran besar bertatahkan permata berharga. Raja Adil Siregar/detikcom Dr Sean Kingsley, seorang arkeolog maritim Inggris, dikutip dari The Guardian, menggambarkan harta karun itu sebagai bukti definitif bahwa Sriwijaya adalah "dunia air" karena orang-orangnya tinggal di sungai seperti manusia perahu modern, seperti yang dicatat oleh teks-teks zaman kuno. Dok. Detikcom
Kerajaan Sriwijiya memiliki peninggalan bersejarah berupa prasasti-prasasti. Lantas, apa sajakah itu? Kamu bisa mendapatkan informasi lengkapnya berikut kerajaan maritim tersebesar di nusantara, sudah tentu Kerajaan Sriwijaya memiliki banyak sekali peninggalan-peninggalan. Nah, pada artikel kali ini yang akan dibahas adalah mengenai prasasti prasasti-prasasti ini yang mengandung nilai sejarah ini tentu saja sangat penting. Karena dari sini, para arkeolog dan sejarawan bisa mendapatkan informasi mengenai eksistensi atau keberadaan Kerajaan Sriwijaya di masa sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin segara menyimak informasi lengkap mengenai prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan isinya, kan? Kalau begitu, kamu bisa cek ulasannya di bawah ini. Selamat membaca! Informasi mengenai prasasti bersejarah peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya bisa kamu simak berikut ini 1. Prasasti Kedukan Bukit Sumber Wikimedia Commons Benda sejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berbentuk batu kecil yang memiliki ukuran sekitar 45 x 80 cm. Prasasti tersebut ditemukan oleh M. Bateburg pada tahun 1920. Lokasi penemuannya adalah di tepi Sungai Tatang yang berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Sekarang, benda tersebut tersimpan rapi di Museum Nasional Indonesia. Prasasti Kedukan Bukit ditulis menggunakan huruf Pallawa dan dibuat sekitar tahun 683 Masehi. Isinya adalah mengenai dari mana asal Dapunta Hyang sang pendiri Kerajaan Sriwijaya dan juga usahanya untuk mendirikan kerajaan tersebut dengan membawa pasukan. 2. Prasasti Ligor Sumber Kebudayaan Kemdikbud Peninggalan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Prasasti Ligor. Benda bersejarah tersebut ditemukan di luar wilayah negara Indonesia, tepatnya berada di Ligor, Semenanjung Melayu, Thailand bagian selatan. Pada awalnya, penemuan tersebut membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya berhasil menaklukkan wilayah Thailand. Namun sebenarnya, prasasti ini menceritakan tentang persahabatan antar dua negara yang sudah terjadi dari awal tahun 775 Masehi. Raja Sriwijaya pada saat itu membangun sebuah tempat suci untuk sebagai tanda persahabatan untuk pemimpin Ligor. Nama tempat tersebut adalah Trisamaya Caitya. Hubungan yang terjalin antara dua kerajaan tersebut dari tahun ke tahun tetap terjalin dengan baik. Bahkan beberapa puluh tahun kemudian, Raja Balaputradewa datang ke sana sebagai peringatan persahabatan tersebut. Prasasti ini berukuan 45 x 80 cm dan memiliki tulisan di kedua sisinya, yang kemudian disebut Ligor A dan Ligor B. Kedua sisi tersebut ditulis pada waktu yang berbeda. Pada bagian A isinya adalah pendirian Trisamaya Caitya. Sementara itu, pada bagian B berisikan tentang Sri Maharaja yang memiliki penampilan seperti Wisnu. 3. Prasasti Kota Kapur Sumber Detik Selanjutnya adalah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan oleh Van Der Meulen pada bulan Desember tahun 1892. Lokasi penemuannya adalah di Pulau Bangka. Benda tersebut ditemukan di lokasi bersama dengan sisa-sisa runtuhan candi. Prasasti yang terbuat dari batu ini memiliki bentuk seperti obelisk dan seluruh bagian sisinya tertutup oleh tulisan. Tulisannya sendiri ditulis dalam huruf Pallawa dan memakai bahasa Melayu Kuno. Adapun isi dari Prasasti Batu Kapur adalah mengenai Pulau Bangka yang sudah ditundukkan oleh Sriwijaya. Di situ, juga tertulis mengenai akibat-akibat yang akan terjadi jika orang-orang ingin memberontak terhadap kerajaan. Salah satunya adalah seluruh anggota keluarganya akan mendapatkan hukuman. Tak hanya bagi yang memberontak, oran-orang yang melakukan kejahatan dan mengganggu ketentraman orang lain juga akan mendapatkan kutukan. Maka dari itu, tidak mengherankan jika Prasasti Kapur disebut-sebut sebagai salah satu prasasti kutukan dari Kerajaan Sriwijaya. Namun berita baiknya, isi dari benda peninggalan tersebut hanya seputar karma atau kutukan buruk saja. Untuk orang-orang yang setia, patuh, dan suka berbuat baik maka akan didoakan mendapatkan anugerah yang berlimpah. 4. Prasasti Talang Tuo Sumber Wikimedia Commons Di urutan keempat, ada Prasasti Talang Tuo. Benda tersebut ditemukan oleh Westenenk pada tahun 1920 di kaki bukit Seguntang, tepatnya di bagian utara Sungai Musi. Prasasti peninggalan bersejarah Kerajaan Sriwijaya ini ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan memiliki ukuran sekitar 50 x 80 cm. Pada benda tersebut tertulis tanggal pembuatannya, yaitu 606 Saka atau 23 Maret tahun 684 Masehi. Isi dari prasasti tersebut adalah mengenai pembangunan Taman Sriksetra oleh Sri Jayanasa. Taman tersebut ditanami berbagai macam tumbuhan yang bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh rakyatnya. Dan juga, raja berharap kalau taman itu tidak hanya berguna untuk manusia saja, tapi semua makhluk lainnya. Selain itu, Prasasti Talang Tuo juga berisikan harapan untuk orang-orang baik semoga mendapatkan karma yang baik pula. Tak hanya itu saja, semoga mereka selalu hidup damai. 5. Prasasti Telaga Batu Sumber Wikimedia Commons Sama seperti namanya, prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di desa Telaga Batu, Kelurahan 2 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Sumatra Selatan pada tahun 1935. Tingginya yaitu sekitar 118 cm dengan lebar 148 cm. Sayangnya, pada prasasti tersebut tidak ada keterangan mengenai tanggal pembuatannya. Hanya saja, para ahli sejarah memperkirakan kalau benda peninggalan tersebut dibuat sekitar tahun 608 M. Berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, prasasti ini mempunyai bentuk yang unik, yaitu terdapat tujuh kepala kobra yang pipih pada bagian atasnya. Sementara itu, pada bagian bawahnya ada sebuah celah untuk mengalirkan air yang menyerupai yoni. Prasasti tersebut ditulis dalam akasara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Tulisannya terdiri dari 28 baris yang berisi tentang kutukan terhadap orang-orang yang memberontak dan melakukan kejahatan di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Di dalam prasasti tersebut disebutkan dengan jelas mengenai profesi orang-orang yang akan mendapatkan hukuman jika memberontak. Contohnya adalah putra raja, para menteri, bupati, bangsawan, para panglima, dan masih banyak lagi. 6. Prasasti Palas Pasemah Sumber yukpigi Salah satu bukti eksistensi Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di Sungai Pisang yang letaknya di sebuah desa bernama Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Sama seperti prasasti lain yang telah disebutkan sebelumnya, Palas Pasemah juga ditulis menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Benda yang ditemukan kembali sekitar tahun 1956 tersebut terbuat dari batu ini berbentuk bulat yang cenderung lonjong. Tingginya sekitar 64 cm, tebalnya 20 cm, dan lebarnya 75 cm. Prasasti tersebut diperkirakan ditulis sekitar akhir abad ke-7. Tulisannya terdiri dari 13 baris, hanya saja ada dua baris yang telah hilang. Maka dari itu, maknanya agak sulit untuk dipahami. Namun secara garis besar, isi dari prasasti tersebut juga mengenai kutukan terhadap orang-orang yang menentang yang tidak mau tunduk terhadap raja. Akibatnya tidak hanya dirasakan oleh orang tersebut, tetapi juga semua keturunannya. Sejak ditemukan hingga sekarang, Prasasti Palas Pasemah ini tidak berpindah dari tempat ditemukannya. Benda ini juga dirawat dengan baik. 7. Prasasti Hujung Langit Sumber anangpaser Benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang juga disebut Prasasti Bawang ini ditulis pada tahun 997 Masehi. Lokasi ditemukannya berada di Kampung Harakuning, desa Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Setelah ditemukan, prasasti tersebut pernah dikunjungi oleh ahli sejarah dari Dinas Purbakala Belanda, yaitu Dr. de Casparis. Prasasti Hujung Langit terbuat dari batu yang memiliki bentuk memanjang dengan ujung yang agak mengerucut. Tingginya sekitar 162 cm dengan lebar 60 cm. Di dalam batu tersebut terdapat sebuah goresan pisau belati yang menghadap ke timu. Tulisannya ditulis menggunakan huruf Pallawa dan berjumlah 18 baris. Isinya adalah tentang penetapan sebuah hutan di wilayah Hujunglangit sebagai sima pemeliharaan bangunan suci. Penetapan tersebut sepertinya berkaitan dengan keberhasilan Sriwijaya yang dapat menghalau serangan Kerajaan Jawa di daerah Lampung. 8. Prasasti Karang Brahi Sumber Kebudayaan Kemdikbud Prasasti dari Kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah yang diberi nama Karang Brahi. Lokasinya berada di Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Brahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Peninggalan tersebut ditemukan oleh seorang Belandan yang bernama L. Berkhout pada tahun 1904. Setelah itu, diteliti oleh Krom. Dari penelitian inilah diketahui kalau prasasti tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Satu-satunya prasasti yang ditemukan di Jambi ini terbuat dari batu dengan tinggi sekitar 5,26 meter dengan lebar 1,96 meter. Sayangnya, bentuknya sudah tidak utuh lagi karena bagian bawahnya telah patah. Benda peninggalan Sriwijaya tersebut diperkirakan ditulis sekitar tahun 680 Masehi. Isinya hampir sama dengan Prasasti Telaga Batu yang berisikan kutukan terhadap orang-orang yang berniat memberontak terhadap kerajaan. Sepertinya, prasasti ini memiliki kaitan dengan perluasan wilayah supaya orang-orang di wilayah yang ditaklukkan tunduk terhadap penguasa yang baru. 9. Prasasti Leiden Bukti eksistensi Kerajan Sriwijaya terakhir yang bisa kamu temukan pada artikel ini adalah Prasasti Leiden. Berbeda dari prasasti-prasasti di atas yang terbuat dari batu, benda yang satu ini terbuat dari lempengan tembaga. Prasasti tersebut dibuat sekitar tahun 1005 dengan menggunakan bahasa Tamil dan Sanskerta. Tulisannya berjumlah 19 baris yang menceritakan tentang hubungan antara Dinasti Sailendra yang pernah memerintah Sriwijaya dengan Dinasti Chola asal selatan India. Saat ini, keberadaan prasasti tersebut tidak ada di Indonesia. Melainkan seperti namanya, benda tersebut berada di Leiden, Belanda. Sudah Puas Membaca Informasi Lengkap tentang Prasati Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Atas? Itulah tadi ulasan mengenai prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang bisa kamu baca di PosKata. Semoga saja informasinya berguna untukmu. Nah, kalau kamu masing ingin membaca fakta mengenai kerajaan ini, langsung saja simak artikel lainnya, ya! PenulisErrisha RestyErrisha Resty, lebih suka dipanggil pakai nama depan daripada nama tengah. Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang lebih minat nulis daripada ngajar. Suka nonton drama Korea dan mendengarkan BTSpop 24/7. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
Laporan wartawan Maya Cita Rosa PALEMBANG - Replika Prasasti Talang Tuo sebagai penanda penemuan kini hilang. Padahal lokasi itu, salah satu bagian terpenting dalam perjalanan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan besar diperkiraan sudah ada pada abad ke 7, dengan bercorak Buddha di Nusantara. Bukti kebesaran Kerajaan Sriwijaya tertulis dalam beberapa prasasti yang pernah ditemukan, salah satunya Prasasti Talang Tuo. Prasasti Talang Tuo adalah sebuah prasasti yang menceritakan seorang raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang sudah ada sejak 684 Masehi, menerangkan tentang pembangunan taman Sriksetra. Penemuan Prasasti Talang Tuo terjadi pada 17 November 1920, dulunya adalah bekas Dusun Talang Tuo atau sekarang Talang Kelapa, Sukarami, Palembang, berdekatan dengan wilayah Tanjung Barangan. Menurut Kepala Balai Arkeologi Sumsel, Budi Wiyana bahwa pada Tahun 1980an, Balai Arkeologi Pusat sudah melakukan penelitian terhadap lokasi penemuan tersebut. Wilayah penemuan diberikan pagar kawat dengan luas 20x20 Meter, pada waktu itu sudah ada replika Prasasti Talang Tuo sebagai penanda penemuan, namun replika tersebut hilang. Saat ini, lokasi tersebut masih adanya tanda berupa cungkup, dan tanda batu, serta adanya makam baru, yang menurut cerita sudah ada sejak masa Sriwijaya. Padahal Menurut Budi, tidak mungkim makam itu sudah ada sejak masa Sriwijaya. Lokasi penemuan prasasti cukup jauh dari pusat kota, dengan perjalanan sekitar 20 menit dari Jalan Soekarno-Hatta. Masuk ke Jalan Tanjung Barangan, wilayah tersebut sudah ramai dengan banyaknya perumahan yang baru dibangun dan sudah ada sebagiannya dihuni oleh masyarakat. Selain itu, untuk sampai ke lokasi penemuan setidaknya harus melewati jalan tanah merah, karena masih belum dibukanya akses jalan di area penemuan prasasti.
berita tentang penaklukan jambi oleh sriwijaya tertulis dalam prasasti